empat Ibadah Pertama di Cirebon
empat Ibadah Pertama di Cirebon

TEMPAT IBADAH PERTAMA DI CIREBON

Diposting pada

1.) MASJID/TAJUG PAJLAGRAHAN, sebagian orang beranggapan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada di Komplek Keraton Kasepuhan merupakan tempat ibadah umat muslim pertama yang di bangun di Cirebon.
Padahal masjid pertama yang didirikan di Cirebon adalah Masjid Pajlagrahan yang saat itu disebut tajug, terletak di Jalan Gambirlaya atau di sebelah timur komplek Dalem Agung Pakungwati. Pada 1452 dibangunlah masjid atau tajug terletak belakang kediaman Pangeran Cakrabuana (belakang Keraton Pakungwati) dan dikenal dengan nama Tajug Pajlagrahan.

tempat ibadah pertama di cirebon

2.) GEREJA SANTO YUSUF, perkembangan agama Katolik di Cirebon di mulai tahun 1877. Ada sumber yang mengatakan bahwa sosok perintis penyebaran ini adalah seorang pengusaha gula. Pengusaha tersebut bernama Louis Theodorus Gonsalves. Gedung gereja ini di resmikan pada 10 November 1880 oleh Mgr. Adam Carel Claessens. Sejak saat itu, Gereja Santo Yusuf Cirebon menjadi gedung gereja Katolik pertama di Jawa Barat dan di Keuskupan Bandung.

tempat ibadah pertama di cirebon

3.) VIHARA DEWI WELAS ASIH, terletak di sebelah gedung Bank Mandiri dan di seberang gedung BAT, atau tepatnya di Jl Kantor No 2. Vihara ini di perkirakan berdiri tahun 1595 dan termasuk dalam benda cagar budaya.
Mengenai kapan berdirinya Vihara Dewi Welas Asih ini tidak ada bukti yang jelas. Hanya saja, sebuah papan kecil yang memuat pepatah atau peribahasa sebagai penghormatan kepada dewa-dewa, tertulis 1658 M di sebelah kiri.

tempat ibadah pertama di cirebon

4.) PURA AGUNG JATI PRAMANA, merupakan satu-satunya tempat ibadah umat Hindu di Wilayah III Cirebon. Pura yang berada di Jl Bali, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, itu di bangun pada 1994. bangunan ini di resmikan pada 6 Agustus 1994, mempunyai luas 1.200 m2. Selain itu, Pura Agung Jati Pramana mempunyai makna, yaitu Agung mengagungkan Tuhan, Jati itu tentang jati diri kita, dan Pramana adalah Prana yaitu kekuatan. Jadi, kekuatan diri kita untuk memuja Yang Maha Agung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.