Stopel Batu Bara Pelabuhan Cirebon Kembali Diprotes Warga
Aktivitas stopel batu bara di Pelabuhan Cirebon kembali menuai protes keras dari warga. Polemik yang telah berlangsung hampir satu dekade ini kembali memanas setelah masyarakat menilai janji penutupan yang disepakati sejak tahun 2016 tak pernah dijalankan secara konsisten.
Rabu (7/1/2026), warga bersama tokoh masyarakat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gerbang Pelabuhan 2 Cirebon. Massa mendesak agar seluruh aktivitas bongkar muat batu bara di dalam kawasan pelabuhan segera dihentikan.
Warga Ungkit Kesepakatan Penutupan Stopel Batu Bara Tahun 2016
Ketua Forum RW Panjunan, Jacky, menegaskan bahwa tuntutan warga bukan tanpa dasar. Ia mengungkapkan, pada tahun 2016 telah ada kesepakatan bersama untuk menghentikan aktivitas bongkar muat batu bara selama enam bulan sebagai langkah awal menuju penutupan permanen.
“Penutupan memang sempat dilakukan. Namun pada 2022, aktivitas stopel kembali dibuka atas permintaan GM Pelabuhan Cirebon saat itu, almarhum Teguh,” ujar Jacky di sela-sela aksi.
Menurutnya, sejak dibuka kembali, tidak pernah ada kejelasan komitmen dari pihak pengelola pelabuhan, terutama terkait stopel batu bara milik PT Pelindo yang dikelola melalui PT PTP.
Stopel Swasta Tutup, Stopel Pelindo Masih Beroperasi
Jacky menjelaskan bahwa stopel batu bara milik swasta saat ini sudah berhenti beroperasi. Hal tersebut dipicu oleh persoalan pembayaran antara pengusaha swasta dan PT Pelindo yang bahkan telah berujung pada proses hukum di Kejaksaan.
“Kasus pembayaran antara PT TJSE sebagai pengusaha swasta dan Pelindo sudah ditangani aparat penegak hukum. Meski pengusaha menyatakan siap melunasi kewajiban, sampai sekarang tidak ada kejelasan,” jelasnya.
Sementara itu, PT Pelindo disebut menyerahkan sepenuhnya penyelesaian sengketa tersebut kepada aparat hukum tanpa ada kepastian waktu.
Sulitnya Komunikasi dengan Manajemen Pelabuhan Cirebon
Situasi kian memanas karena warga mengaku kesulitan berkomunikasi dengan pimpinan Pelabuhan Cirebon saat ini. Jacky menyebut, selama sekitar 16 bulan terakhir, General Manager Pelabuhan Cirebon sulit ditemui dan tidak membuka ruang dialog dengan masyarakat.
“GM sekarang tidak bisa diajak komunikasi, tidak pernah bersilaturahmi seperti GM-GM sebelumnya. Karena itu tuntutan kami tegas, tutup stopel batu bara di dalam Pelabuhan Cirebon,” tegasnya.
Kondisi tersebut membuat warga merasa diabaikan dan lelah dengan ketidakpastian yang terus berlarut.
Kapolres Cirebon Kota Turun Tangan Mediasi Konflik
Di tengah kebuntuan, Kapolres Cirebon Kota AKBP Eko Iskandar turun langsung untuk memediasi konflik yang telah berlangsung lama tersebut. Kehadiran Kapolres mendapat apresiasi dari warga yang berharap ada solusi konkret dan bukan sekadar janji.
Warga menyatakan kesediaannya mengikuti arahan Kapolres demi tercapainya penyelesaian yang jelas dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Hingga pukul 12.58 WIB, proses mediasi masih berlangsung di Polsek Kawasan Pelabuhan Cirebon (KPC) dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
Warga Desak Kepastian Penutupan Stopel Batu Bara
Bagi warga, persoalan stopel batu bara bukan sekadar soal aktivitas pelabuhan, tetapi juga menyangkut dampak lingkungan, kesehatan, dan kualitas hidup masyarakat sekitar. Mereka berharap pemerintah dan pengelola pelabuhan tidak lagi mengabaikan aspirasi warga.
Aksi protes ini menjadi sinyal bahwa masyarakat Pelabuhan Cirebon menuntut kepastian: janji penutupan stopel batu bara harus benar-benar diwujudkan, bukan sekadar wacana.
Stopel Batu Bara Pelabuhan Cirebon Diprotes Lagi, Warga Tagih Janji Penutupan Sejak 2016










