Beranda / Insiden / Longsor Sungai Cikanci Cirebon Belum Diperbaiki 8 Tahun

Longsor Sungai Cikanci Cirebon Belum Diperbaiki 8 Tahun

Longsor Sungai Cikanci Cirebon Belum Diperbaiki 8 Tahun, Akses Tiga Desa Terancam
Kondisi longsor di bantaran Sungai Cikanci tepatnya di Desa Buntet, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, hingga awal 2026 belum mendapat penanganan permanen. Padahal, kerusakan tebing terus meluas dan berpotensi mengancam keselamatan warga serta akses vital antar desa.
Permasalahan longsor Sungai Cikanci Cirebon ini bahkan telah berlangsung sejak 2018. Pemerintah desa mengaku telah berulang kali mengajukan permohonan perbaikan kepada Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWS) dan dinas terkait. Meski survei lapangan sudah dilakukan, pembangunan tanggul permanen hingga kini belum terealisasi.


Erosi Sungai Perparah Longsor
Derasnya arus Sungai Cikanci menjadi penyebab utama kerusakan tebing. Aliran air yang terus-menerus menggerus bagian bawah tanah membuat struktur di atasnya menjadi labil. Kondisi ini meningkatkan risiko longsor sewaktu-waktu, terutama saat musim hujan dan debit air meningkat.
Kuwu Desa Buntet, Edi Suhaedi, menjelaskan bahwa persoalan ini sudah terjadi sejak awal masa jabatannya.
“Masalah longsor ini sudah ada sejak saya menjabat tahun 2018. Kami sudah mengajukan perbaikan ke BBWS dan dinas terkait, survei juga sudah dilakukan, tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ujarnya.


Perbaikan Swadaya Selalu Gagal
Sebagai langkah darurat, pemerintah desa sempat melakukan perbaikan secara swadaya dengan memasang cerucuk bambu sebanyak dua kali. Namun, setiap kali banjir datang, struktur tersebut kembali rusak.
Saat ini, panjang longsoran diperkirakan mencapai sekitar 50 meter dengan ketinggian tebing lebih dari 2–3 meter. Jika tidak segera ditangani, kerusakan diprediksi terus meluas dan memperparah kondisi bantaran sungai.


Akses Tiga Desa dan Pertanian Terancam
Tanggul dan jalur di sekitar Sungai Cikanci memiliki peran strategis karena menghubungkan beberapa wilayah, termasuk Desa Kanci dan Kanci Kulon. Jalur tersebut juga menjadi akses utama petani menuju lahan pertanian.
Akibat longsor Sungai Cikanci Cirebon, akses jalan kini sulit dilalui. Dampaknya, aktivitas pertanian terganggu dan sebagian petani mulai enggan menanam karena khawatir lahan serta distribusi hasil panen terhambat.
“Banyak petani tidak mau menanam karena jalannya rusak dan tidak bisa dilalui. Padahal ini akses penting bagi aktivitas pertanian,” ungkap Edi.
Tanaman tebu dan padi di sekitar lokasi juga terancam, sehingga berpotensi memengaruhi produksi pertanian desa.


Warga Harap Tanggul Permanen Segera Dibangun
Pemerintah Desa Buntet berharap pihak terkait segera merealisasikan pembangunan tanggul permanen di Sungai Cikanci. Penanganan menyeluruh dinilai sangat mendesak untuk mencegah longsor lebih besar sekaligus memulihkan akses masyarakat.
Jika tidak segera diperbaiki, longsor Sungai Cikanci bukan hanya berdampak pada sektor pertanian dan ekonomi warga, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
“Kami sangat berharap ada perhatian serius. Jika tanggul ini dibangun permanen, akses kembali normal dan aktivitas warga bisa berjalan seperti biasa,” tutupnya.


Kesimpulan
Kasus longsor Sungai Cikanci Cirebon menunjukkan pentingnya penanganan infrastruktur bantaran sungai secara cepat dan berkelanjutan. Kerusakan yang dibiarkan hingga bertahun-tahun tidak hanya memperparah erosi, tetapi juga mengancam akses antar desa, pertanian, dan keselamatan warga.
Perbaikan tanggul permanen menjadi solusi utama agar risiko longsor dapat dikendalikan dan aktivitas masyarakat kembali normal.

Tag: