Beranda / Cirebon / Semburan Gas Misterius Muncul Lagi di Cipanas Cirebon

Semburan Gas Misterius Muncul Lagi di Cipanas Cirebon

Fenomena semburan gas Cipanas Cirebon kembali meresahkan warga Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon. Kawah alami yang mengeluarkan gas bercampur lumpur tersebut dilaporkan kembali aktif, memicu kekhawatiran masyarakat, khususnya para petani yang sawahnya berada di sekitar lokasi.


Kawah gas yang sempat ditutup pada 2021 itu kini terlihat kembali aktif. Air di dalam kolam berdiameter lebih dari lima meter tampak terus bergolak seperti mendidih, meski tidak ditemukan sumber panas di permukaan. Lokasi kawah ini berada sangat dekat dengan area persawahan warga, hanya sekitar 10 meter, sehingga dampaknya dirasakan secara langsung.


Ketua RW 7 Desa Cipanas, Yunus, mengatakan bahwa kawah gas tersebut bukanlah fenomena baru. Menurutnya, kawah tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang warga setempat dan pernah dimanfaatkan untuk kepentingan industri.
“Dari dulu sudah ada. Bahkan dulu sempat dimanfaatkan oleh pabrik kapur. Setelah pabrik berhenti, kawah ini dibiarkan tanpa pengelolaan,” ujar Yunus, Jumat (19/12/2025).


Seiring waktu, aktivitas kawah justru semakin berdampak negatif. Bau gas belerang yang menyengat kerap tercium hingga radius sekitar satu kilometer, tergantung arah angin. Wilayah Blok Sawadeket dan Blok Gambir disebut sebagai area yang paling sering terdampak.


“Warga yang setiap hari terpapar lama-lama merasa sesak napas. Banyak yang mengalami gangguan pernapasan seperti ISPA. Tapi yang paling terdampak itu para petani,” jelas Yunus.


Menurutnya, sawah di sekitar kawah diduga telah terkontaminasi belerang yang terbawa oleh air dan gas. Tanaman padi memang terlihat subur pada awal pertumbuhan, namun hasil panen justru menurun drastis saat masa berbuah.
“Dulu seperempat hektare sawah bisa menghasilkan tujuh sampai delapan kuintal. Sekarang tiga sampai empat kuintal saja sudah berat,” ungkapnya.


Tak hanya berdampak pada sektor pertanian, gas belerang juga memengaruhi kehidupan sehari-hari warga. Peralatan rumah tangga dan barang elektronik dilaporkan cepat rusak akibat korosi.
“Baru satu atau dua tahun, barang elektronik sudah berkarat dan rusak,” tambahnya.


Aktivitas kawah gas Cipanas juga dipengaruhi oleh musim. Saat musim kemarau, kawah hanya mengeluarkan gas. Namun saat musim hujan, air hujan yang masuk ke lubang kawah terdorong oleh tekanan gas dari bawah sehingga tampak seperti semburan.


Sementara itu, Kepala Desa Cipanas, Maman Sudirman, membenarkan bahwa kawah gas tersebut telah ada sejak sekitar tahun 1960-an. Ia menjelaskan bahwa dahulu gas dari kawah dimanfaatkan untuk kebutuhan industri.
“Dulu gasnya dipakai untuk menetralisir kapur. Tapi setelah pabrik berhenti, tidak ada lagi penanganan,” jelasnya.


Maman memastikan bahwa gas tersebut bukan gas yang mudah terbakar.
“Kalau terkena api justru mati,” tegasnya.
Fenomena kawah gas Cipanas sempat viral dan menjadi perhatian nasional pada 2021–2022. Namun hingga kini, warga menilai belum ada penanganan serius dan berkelanjutan dari pihak terkait.
“Padahal dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama petani,” pungkas Maman.


Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan melakukan kajian ilmiah serta penanganan terpadu agar fenomena semburan gas ini tidak terus merugikan masyarakat dan lingkungan sekitar.